Kamis, 21 April 2011

Festival Malang Kembali atau Malang Tempoe Doeloe













Malang tempoe doeloe atau festival malang kembali yang di selenggarakan waktu HUT kota malang bertuuan untuk mengingat lagi budaya-budaya yang ada di kota malang ini khususnya. Utamanya bagi mereka yang mempunyai kepedulian pada sejarah dan budaya lokal. Sebuah kegiatan yang tidak hanya memberikan nuansa hiburan pada rakyat, gelar kuliner tempo dulu, ajang temu antik, ajang fashion tempo dulu bahkan barang-barang bersejarah namun juga menjadi ajang pembelajaran budaya dan sejarah dihadirkan dalam kegiatan ini.

Sebuah kegiatan yang jarang diadakan atau bahkan tidak pernah ada di daerah-daerah lain kecuali hanya dapat ditemukan di Kota Malang, Kota Bunga sekaligus Kota Pendidikan Internasional ini. Acara yang mengemas secara apik dan menarik potret sejarah dengan berbagai budaya lokal bangsa dan rakyat Indonesia, khususnya yang berada di Malang Raya. Menghadirkan kembali ikon budaya lokal dan sejarah bangsa Indonesia secara umum yang kini tengah dirongrong oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dari waktu ke waktu.

Jika melihat ke belakang, Malang di masa silam tentu tak se-mutakhir sekarang bila melihat dari perspektif sistem peradaban di multi sektoralnya. Tapi Malang yang dulu adalah representasi nusantara yang kini dikenal dengan istilah gemah ripah loh jinawi tentrem karto raharjo. Sebuah Kota kecil dengan ketinggian kurang lebih 600 dpl ini telah menyedot banyak perhatian banyak generasi sepanjang sejarahnya untuk menjadikan Malang sebagai Surga Dunia.

Pesta rakyat yang berkala tahunan ini tentu melibatkan seluruh elemen lapisan masyarakat. Mulai dari yang berada di jajaran birokrasi pemerintah, pengusaha menengah ke atas, pedangan kaki lima hingga masyarakat kecil pun tak lepas ikut meramaikan kegiatan ini pula. Termasuk bagi mereka para perjuang veteran yang pernah turut andil menghantarkan bangsa ini kepada pintu gerbang kemerdekaan rakyat Indonesia.

Dengan menyuguhkan panggung rakyat seperti wayang topeng, ketoprak, ludruk hingga keroncongan. Pengunjungnya dihipnotis pula dengan dipamerkannya benda-benda bersejarah dan purbakala. Termasuk diramaikan dengan adanya pasar rakyat yang di dalamnya menjual kuliner-kuliner kuno, jajanan lama, barang antik hingga pengobatan gratis termasuk pameran artefak-artefak di masa kerajaan kuno. Tentu masih banyak ragam aktivitas dan aksesoris lain yang dapat ditemukan pula selama festival ini berlangsung. Selain sebagai sebuah bentuk tujuan wisata jadi-jadian dan ajang ekonomi kreatif, kegiatan ini jauh lebih menarik dan sangat bermanfaat karena mampu menghadirkan nuansa sejarah dan budaya lokal masa lalu bangsa ini.

Kegiatan semacam ini harus terus digelar atau bila perlu diikuti oleh daerah-daerah lain. Karena itu telah dapat mengaktualiskan kembali potret kehidupan sejarah dan budaya nenek moyang kita baik dalam skala lokal maupun nasional. Dengan begitu dapat membangkitkan kembali semangat generasi muda bangsa Indonesia. Menumbuhkan inspirasi nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara bagi setiap pengunjungnya. Menanamkan rasa senasib dan seperjuangan sesama rakyat Indonesia. Sikap kebersamaan dan gotong royong sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang kini kian luntur oleh arus globalisasi.


0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. FIQRIscientist - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz